Home » » UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SD DENGAN METODE MUELLER

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SD DENGAN METODE MUELLER

Abstrak

Salah satu aspek pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar yang memegang peran penting adalah membaca, khususnya membaca permulaan. Pada sisi lain, pentingnya pengajaran membaca permulaan pada anak diberikan sejak usia dini ini juga bertolak dari kenyataan bahwa masih terdapat sebelas juta anak Indonesia dengan usia 7 – 8 tahun tercatat masih buta huruf (Infokito, 2007). Selain itu, menurut laporan program pembangunan 2005 PBB tentang daftar negara berdasarkan tingkat melek huruf, Indonesia masih berada pada peringkat 95 dari 175 negara. Pada sisi lain, berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Leminggir I rendah yang disebabkan oleh metode pembelajarannya yang kurang menarik bagi siswa. Berdasarkan kenyataan tersebut peneliti melakukan upaya perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode Mueller, yaitu metode pembelajaran membaca permulaan yang memanfaatkan benda-benda konkret yang berada di sekitar anak yang diwujudkan ke dalam kegiatan bermain. Dengan penerapan metode tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Leminggir I. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berjenis penelitian tindakan kelas, hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan rata-rata sebesar 12,5%. Bahkan, kalau dikaitkan dengan SKM yang dipatok sekolah (85%), hasil evaluasi Silklus II menunjukan pencapaian ketuntasan belajar sampai 90%. Hal ini membuktikan bahwa metode Mueller cocok diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan pada siswa kelas I SDN Leminggir I


Kata kunci : Membaca permulaan, Metode Mueller.




Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan penunjang keberhasilan dalam memelajari semua bidang studi. Menyadari peran yang demikian, pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu siswa mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartsipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya (Depdiknas, 2006:317). Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan masyarakat Indonesia (Depdiknas, 2006:231).



Dalam kebijakan pendidikaan kita, Bahasa Indonesia diajarkan sejak anak usia dini. Hal ini disebabkan pengajaran tersebut dapat memberikan kemampuan dasar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Salah satu aspek pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar yang memegang peran penting adalah membaca, khususnya membaca permulaan. Membaca permulaan merupakan kegiatan awal untuk mengenal simbol-simbol fonetis (Arifin, 2004:11). Pada sisi lain, pentingnya pengajaran membaca permulaan pada anak diberikan sejak usia dini ini juga bertolak dari kenyataan bahwa masih terdapat sebelas juta anak Indonesia dengan usia 7 – 8 tahun tercatat masih buta huruf (Infokito, 2007). Selain itu, menurut laporan program pembangunan 2005 PBB tentang daftar negara berdasarkan tingkat melek huruf, Indonesia masih berada pada peringkat 95 dari 175 negara.


Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru kelas di SDN Leminggir I diperoleh informasi tentang kondisi kemampuan membaca siswa di beberapa tingkatan kelas. Berdasarkan informasi tersebut diketahui masih ada beberapa siswa di kelas 4, 5, dan 6 (kelas tinggi) yang membacanya masih dengan cara mengeja. Hal ini tampak pada nilai siswa pada aspek membaca yang tidak mencapai standar kelulusan. Padahal, pada tingkatan kelas tersebut seharusnya kemampuan membaca siswa tidak lagi hanya mengenali tulisan tapi mulai memaknai dan memahami arti tulisan, sebagaimana dikatakakan Slamet (2007:42) bahwa siswa yang duduk di kelas 4 sampai dengan kelas 2 SMP membaca tidak lagi pada pengenalan tulisan tetapi pada pemahaman.


Mengetahui adanya kondisi tersebut peneliti mencoba mendeteksi apa penyebab ketidaktercapaian tujuan pembelajaran membaca di SD............ Dari hasil observasi diketahui bahwa ketidaktercapaian tujuan tersebut antara lain disebabkan kurang menariknya pembelajaran membaca permulaan di kelas rendah, khususnya kelas 1 dan minimnya kreativitas guru menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Guru menggunakan metode yang kurang menarik minat siswa untuk belajar membaca. Guru langsung mengajak siswa untuk membaca buku teks. Menurut pengamatan peneliti, metode pembelajaran semacam ini dianggap kurang efektif dan mengakibatkan hasil belajar siswa kurang maksimal.


Dalam pembelajaran membaca permulaan, ada beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain: (1) metode SAS, (2) metode abjad dan metode bunyi, (3) metode kupas rangkai suku kata, (4) metode kata lembaga, dan (5) metode global (Slamet, 2007:62). Berpijak pada keberhasilan metode-metode tersebut peneliti mencoba menerapkan metode baru yang dikembangkan oleh Stephanie Mueller untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan di SD Leminggir I. Metode ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca permulaan karena dapat meningkatkan kemampuan motorik, intelegensi, dan kemandirian anak. Menurut Mueller (2006:7), pengajaran membaca permulaan sebaiknya diajarkan sejak dini dengan cara mengenalkan tulisan-tulisan yang konkret yang sering ditemukan dalam dunia anak. Metode ini dikemas dengan pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar membaca.


Dalam penerapannya, Metode Mueller ini sesuai dengan pembelajaran kontekstual atau sering disebut dengan Contextual Teaching and Learning (CTL), yaitu strategi pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual yang ditawarkan dan diidentifikasi dalam strategi CTL terdapat pula dalam metode Mueller.


Berdasarkan pertimbangan dan informasi dari guru tersebut, peneliti merasa perlu melakukan penelitian mengenai pembelajaran membaca di kelas I SD dengan fokus penelitian pada “Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SD dengan Metode Mueller pada Pembelajaran Bahasa Indonesia SD.......... Kecamatan ..................”.


Download lengkapnya di sini.
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Blog OK | Mas Template
Copyright © 2012. Berbagi Skripsi PTK - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger