Home » » Peningkatan hasil belajar melalui model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal

Peningkatan hasil belajar melalui model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal

.    PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pendidikan merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Menurut Driyarkara (dalam Nanang 1996: 4), pendidikan adalah memanusiakan manusia muda, pengangkatan manusia muda ke taraf mendidik. Selain itu, menurut Poerbakawatja dan Harahap (dalam Sagala 2006: 3), pendidikan merupakan semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahunnya, pengalamannya, kecakapannya, dan keterampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.
Dari beberapa definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang berlangsung di sekolah dan luar sekolah. Usaha sadar tersebut dilakukan dalam bentuk pembelajaran yang menekankan ada pendidik yang melayani para siswanya melakukan kegiatan belajar, dan pendidik menilai atau mengukur tingkat keberhasilan belajar siswa tersebut dengan prosedur yang ditentukan.
Ditinjau dari aspek proses, pendidikan merupakan tindakan dalam rangka mempengaruhi peserta didik. Peserta didik diharapkan mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan yang akan menimbulkan perubahan pada dirinya yang memungkinkan, sehingga berfungsi sesuai kompetensinya dalam kehidupan masyarakat.
Pendidikan di Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan dan hambatan. Salah satu hambatannya adalah rendahnya mutu pendidikan. Dengan hambatan tersebut akan menjadikan sebuah tantangan bagi pengelola pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Keberhasilan mutu pendidikan sangat erat kaitannya pada proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas.  Menurut pandangan Dimyanti dan Modjiono  (dalam Sagala 2006: 62), pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. T. Jersild (dalam Sagala 2006:12), pembelajaran merupakan “Modification of behavior through experiens and training” yaitu perubahan atau membawa akibat perubahan tingkah laku dalam pendidikan karena pengalaman dan latihan atau karena mengalami latihan. Jadi pembelajaran ialah suatu perubahan dalam kemungkinan atau peluang terjadinya respons antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Di samping itu,peningkatan mutu pendidikan juga dipengaruhi oleh kompetensi seorang guru dalam mengajar. Guru memiliki tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pembelajaran di sekolah. Menurut Nasotion (2006 : 16), salah satu alat pendidikan yang paling utama adalah guru, dan guru harus memiliki peranan (1) mengkomunikasikan pengetahuan, (2) guru sebagai model, (3) selain itu guru juga menjadi model sebagai pribadi, berdisiplin, cermat berfikir, mencintai mata pelajarannya.
Sebagai pemegang peranan yang sangat penting, guru juga dituntut untuk menguasai berbagai model dan pendekatan mengajar serta terampil dalam menggunakan alat peraga. Dengan kata lain kualitas pembelajaran tergantung kepada kemampuan guru dalam memadukan secara sistematis dan sinergis  guru, kurikulum, bahan belajar, media, fasilitas, sistem, pembelajaran dalam menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikulum.          
Salah satu program pengajaran di jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). IPS adalah  mata pelajaran wajib di SD dan juga merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Akhir Sekolah (UAS). Materi  IPS memfokuskan kajian hubungan antar manusia dan proses membantu pengembangan kemampuan dalam hubungan tersebut. Pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dikembangkan melalui kajian ini ditujukan untuk mencapai keserasian dan keselarasan dalam kehidupan masyarakat.
Pendidikan IPS sudah lama dikembangkan dan dilaksanakan dalam kurikulum-kurikulum di Indonesia, khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Menurut Winataputra (2007: 9.3), IPS sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya disamping aspek nilai moral, banyak memuat materi sosial yang  bersifat hapalan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa sebatas produk hapalan”. Pembelajaran IPS pada siswa SD harus memperhatikan karakteristik siswa pada usia SD. Guru harus dapat menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswanya. Adapun karakteristik dan kebutuhan peserta didik pada usia SD adalah sebagai berikut: (1) anak SD adalah senang bermain (2) senang bergerak (3) anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam kelompok (4) anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. (http://nhowitzer.multiply.com/journal/item/3).
Berdasarkan pendapat di atas maka peran guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa di SD ialah sebagai berikut: (1) guru SD hendaknya melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan terutama untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanyaunsur permainan didalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai (2) guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan (3) guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi, guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3-4 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok (4) guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Dari observasi dan wawancara yang peneliti lakukan selama mengikuti kegiatan Praktik Pengenalan Lapangan (PPL) di SDN 69 Kota Bengkulu, ternyata pada mata pelajaran IPS, siswa kelas VD memiliki nilai rata-rata terendah dibanding siswa kelas V lainya. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas VD yaitu 6,15. Kondisi ini masih jauh dari standar nilai yang diharapkan. Pembelajaran IPS dikatakan tuntas secara individual apabila siswa di kelas mendapatkan nilai 7,0 ke atas (Depdiknas, 2007: 47), dan pembelajaran secara klasikal dikatakan tuntas apabila siswa di kelas memperoleh nilai 7,0 ke atas sebanyak 75% (Depdiknas, 2007: 62).      
Selain itu, dari hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi IPS di kelas VD SDN 69 Kota Bengkulu, didapat informasi bahwa rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas VD disebabkan pembelajaran masih berpusat pada guru (Teacher Centred). Pendekatan dan metode yang digunakan belum bervariasi sehingga siswa kurang termotivasi mengikuti pembelajaran di kelas. Kondisi ini juga menyebabkan siswa pasif sehingga proses pembelajaran yang berlangsung belum maksimal. Di samping itu, selama proses pembelajaran berlangsung, siswa terlihat kurang antusias dan malas membaca materi pelajaran karena kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran.
Selain pembelajaran yang kurang aktif, guru kelas VD SDN 69 Kota Bengkulu juga menyatakan bahwa siswa kelas VD SDN 69 Kota Bengkulu bersifat heterogen, baik dari segi bakat, kemampuan, kecerdasan, kreativitas, motivasi, kecepatan belajar, lingkungan, dan latar belakang keluarga. Keadaan tersebut mengakibatkan kemampuan kognitif dan afektif siswa berbeda-beda pula, ada siswa yang pandai, sedang dan kurang. Akhirnya terjadi kesenjangan prestasi diantara mereka. Siswa yang pandai semakin meningkat kemampuan belajarnya sedangkan siswa yang sedang dan kurang tidak mengalami perubahan dalam peningkatan belajar.
Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka perlu adanya tindakan yang dapat memaksimalkan proses pembelajaran agar siswa lebih aktif. Sebagai solusi dari permasalahan di atas, maka peneliti akan berdiskusi dengan guru kelas untuk melakukan perbaikan terhadap model pembelajaran yang digunakan selama ini, yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal.                                                          Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, maka model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan hasil belajar dan keterampilan sosial siswa. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal siswa tidak hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam proses pembelajaran, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya dan sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Interaksi sosial siswa pun dapat berkembang dengan baik karena dalam proses pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal ini siswa dituntut untuk mampu bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Model pembelajaran ini juga merupakan salah satu cara untuk mengatasi siswa yang heterogen sehingga dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok atas maupun siswa kelompok bawah yang bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
Penelitian serupa yang relevan yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dapat meningkat dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal. Keaktifan siswa dalam berbagai aktivitas pembelajaran juga dapat ditingkatkan. Seperti yang telah dilakukan oleh Triyono guru kelas IV di SDN Loktabat I (2009), yang membahas tentang model kooperatif tipe berkirim salam dan soal khususnya dalam pembelajaran PKn. Dan hasilnya dapat meningkatkan hasil belajar pada proses belajar mengajar dan dapat mengembangkan rasa tanggung jawab atau solidaritas serta melatih anak mengungkapkan pendapat. (http: //Triyono. Wordpress.yahoo.com.).
Pada penelitian sebelumnya juga dilakukan oleh Eka Puspita Sari, (2009) meneliti  Siswa kelas XI IPA MA Al-Khairaat Kota Gorontalo, dalam penelitiannya menunjukkan bahwa hasil belajar dan keaktifan siswa dalam berbagai aktivitas pembelajaran IPA dapat ditingkatkan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal. (http://www.dokterkimia.com/2010/05/meningkatkan-aktivitas-siswa melalui.html).
Selain itu, penelitian Rafiatun Nisa, (2010) yang meneliti siswa kelas V SDN 29 kota Bengkulu mata pelajaran IPS menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dapat ditingkatkan  dengan menerapkan model kooperatif tipe berkirim salam dan soal.                     
            Berdasarkan permasalahan di atas, dan upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran, maka ditetapkan judul penelitian ini adalah sebagai berikut, yaitu “Peningkatan Hasil Belajar dan keterampilan sosial siswa pada mata pelajaran IPS melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe Berkirim Salam dan Soal di Kelas VD SDN 69 Kota Bengkulu”.
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

2 komentar:

Isti Rejeki Purwandari mengatakan...

boleh saya minta data tentang teknik berkirim salam dan soal..??untuk bahan referensi skripsi saya

Anonim mengatakan...

maaf mau nanya dong untuk teknik berkirim salam dan soal ada dibuku apa saja ya? terimakasih

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Blog OK | Mas Template
Copyright © 2012. Berbagi Skripsi PTK - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger